“Sakit, kadang kalau sampe rumah diliat teh pada luka neng kulit kakinya, tapi da gimana.. Abah gak bisa pake alas apa-apa, kondisi kakinya juga kayak ini,” Lirihnya.
Siang tadi bertemu bapak tua berjalan terseok-seok. Namanya Abah Ahmad (65 tahun). Sehari-hari berjuang bertahan hidup dengan berjualan sayur keliling.
Abah terlahir tanpa kedua tangan normal, sebelah kakinya pun tak sempurna. Bahkan mata sebelah kirinya pun tak lagi bisa melihat. Semua tetap ia syukuri ditengah kondisinya yang semakin sulit karena menderita stroke sehingga bicarapun kesulitan.
Hidup dengan penuh keterbatasan. Dicaci, diremehkan, dipandang buruk oleh orang lain tak membuat Abah menyerah pada keadaan.
“Kalau Abah nyerah Abah gak akan bisa makan neng, dikuat-kuatin aja.. Abah udah ikhlas, nerima sepenuhnya kondisi Abah,” Ucapnya.
Apa-apa Abah lakukan sendiri mulai dari memasak sampai menyiapkan dagangannya. Sering makan hanya dengan nasi saja tanpa lauk, jika ingin ada tambahan rasa, Abah hanya bisa mencampurkannya dengan garam.
“Bisa beli nasi aja udah bersyukur banget Abah mah neng, gak papa gak pake lauk juga. Yang penting Abah gak kelaparan,” Ujarnya.
Salutnya Abah rela menghalau rasa lelah dan sakit dari berjalan berkilo-kilo meter sembari membawa keranjang berisikan sayur mayur yang ia jual keliling kampung. Ujarnya,
“Abah gak mau ngemis dijalanan, Abah masih punya tenaga buat usaha,” Tegasnya.
Seringkali saat dagangan sepi Abah hanya melamun. Penghasilan 20rb sehari memang jauh dari cukup mesti tetap ia syukuri.
“20 ribu kalau habis semua neng, seringnya mah cuman 2 atau 3 orang aja yang mau beli,” Ucapnya.
Karena itu betapa bahagianya Abah jikalau dagangannya laris habis terjual..
“Kalau laris bisa nabung Abah neng, walau sedikit.. Bisa buat beli kaki palsu, Abah pengen coba jalan berdiri, kayaknya enak ya neng?” Jawabnya.
Sahabat, sudah puluhan tahun Abah Ahmad rasakan pedih berjuang dijalanan untuk sekedar bisa menyambung hidupnya. Saat ini giliran kita bahagiakan beliau disetiap detik masa tuanya yuk?



