Dari kejauhan, tampak tulisan tangan yang sederhana di sebuah sepeda tua
"Produk Abah Ahmad Soleh — Gulali Rp2.000. Ya Allah, semoga laris. Aamiin."
Di atas box kecil yang menumpang di belakang sadel, gulali-gulali warna-warni berdiri rapi, menanti dibeli.
Sepeda itu bukan sekadar alat bantu ia adalah saksi perjuangan seorang lelaki tua bernama Abah Ahmad, yang kini telah berusia 96 tahun.
Setiap hari, Abah menuntun sepedanya, untuk berjualan keliling demi sesuap nasi. Sudah lebih dari 50 tahun ia menjalani profesi ini. Panas, hujan, dan tubuh yang renta tak menyurutkan niatnya untuk tetap bekerja.
"Selama bisa berdiri dan melangkah, Abah akan terus mencari nafkah," begitu prinsip hidupnya
Sakit di pinggang dan kaki bukan hal baru. Begitu juga risiko di jalan. Pernah, hasil jualan seharian dirampas orang tak dikenal—habis tak bersisa. Bahkan Abah harus nombok ke pemilik gulali, karena barang dagangannya bukan milik pribadi.
Namun dari semua luka dan lelah itu, Abah menyimpan satu harapan sederhana: Mempunyai modal untuk membuka warung kecil agar di sisa hidupnya, ia bisa beristirahat tenang, tak lagi harus keliling dengan sepeda reyot dan tubuh yang kian ringkih.
Di usia hampir satu abad, Abah Ahmad masih berjuang di jalan demi hidup yang layak. Kini, kita bisa jadi bagian dari harapan kecilnya—agar ia bisa menutup hari tuanya dengan penuh keberkahan. Karena mungkin, dari tangan kita Abah tak lagi harus menuntun sepedanya dalam lelah.
Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Abah Ahmad serta membantu mewujudkan harapannya membuka warung kecil agar tak lagi harus berjualan keliling. Insya Allah, jika ada kelebihan dana, akan disalurkan kepada penerima manfaat lain melalui program-program kemanusiaan Yayasan Sahabat Beramal Jariyah.



