Dengan nada penuh kesedihan dan air mata yang mengalir di pipinya, Abah berkata, "Bukan karena meratapi nasib, tapi aku sedih saat melihat orang baik memberikan sedekah, sementara aku hanya bisa mendoakan mereka. Kapan aku bisa seperti mereka, itulah yang membuatku sedih."
Di tengah usia senja, terik matahari, keringat yang bercucuran, dan kaki yang pegal, tidak menghalangi Abah Inen yang berusia 79 tahun untuk tetap mengayuh sepeda tuanya yang bertuliskan sol sepatu.
Dengan semangat yang tak pernah surut, Abah Inen menawarkan jasanya dari rumah ke rumah sambil terus berseru, solpatu.. solpatu...
Puluhan kilometer ditempuhnya tanpa keluhan, meskipun banyak rintangan yang dihadapi. Hanya ada satu hal di pikirannya, *anak dan istri harus makan.*
Penghasilan yang didapatnya tak seberapa, kadang-kadang jika sedang ramai, Abah bisa membawa pulang 50 ribu rupiah. Namun, itu jarang sekali terjadi. "Inilah usaha Abah sekarang, tidak seperti dulu. Sekarang Abah hanya mengandalkan sol sepatu futsal anak-anak, kalau yang dewasa sudah jarang," ujarnya sambil mengelap keringat di wajahnya.
Meskipun penghasilan tidak menentu, kegigihan Abah untuk menafkahi keluarganya tidak pernah surut. Begitu juga dengan Mak Ojoh, istrinya yang berusia 65 tahun, yang selalu berusaha membantu suaminya. Ketika ada rezeki lebih, Mak Ojoh membeli bahan-bahan gorengan untuk dijual. Namun, usaha itu tidak bertahan lama karena Abah seringkali pulang tanpa uang, bahkan kadang-kadang 15 ribu rupiah hanya cukup untuk menambal ban sepeda yang sering bocor, sehingga modal mereka habis untuk kebutuhan sehari-hari.
Meskipun ekonomi mereka serba kekurangan, keluarga Abah, terutama istrinya, selalu bersyukur atas rezeki yang didapat. Mereka tetap bahagia bisa makan bersama, meskipun hanya dengan pindang bubuk dan telur dadar seadanya.
Sahabat amal, yuk kita bantu abah raih hidup yang lebih layak di usia senjanya!


