Mang Sutisna atau lebih dikenal dengan Mang Entis memegang tongkat kayu sambil jalan terpincang-pincang tanpa alas kaki, menyusuri jalan setapak yang terjal keliling kampung..
Mang Entis menjajakan dagangan berupa nyiru/ayakan yang terbuat dari anyaman bambu.
Sejak bayi kedua kaki Mang Entis melengkung, membuat ia kesulitan untuk berjalan. Tak jarang saat bekeliling rasa sakit di kedua kakinya kerap terasa.
Beliau tidak berjualan setiap hari karena harus membuat anyamannya terlebih dahulu. 1 buah nyiru yang dibuatnya memerlukan waktu sekitar 2 hari. Setelah selesai, beliau menjajakannya keliling kampung. Nyiru yang ia buat dijual dengan harga 20-25 ribu rupiah. Dalam sehari tak jarang nyiru yang dijualnya tidak laku.
Untuk mendapatkan bahan bambu yang Mang Entis butuhkan, ia harus berhutang kepada orang lain karena Mang Entis tak punya modal. Jadi jika dagangannya laku, beliau harus membayar utangnya.
“Saya di rumah tinggal bersama ibu, beliau udah sangat tua. Jadi saya mencari nafkah untuk saya dan ibu di rumah,” ujar Mang Entis.
Mereka berdua tinggal di gubuk yang sangat sederhana. Penghasilan yang ia dapat hanya cukup untuk makan sehari-hari.
“Kalau saya gak jualan, ibu mau makan apa? Kadang kalau gak ada dagangan yang laku, saya gak makan. Yang penting ibu aja yang makan di rumah,” tambahnya.
Harapannya, jika ada rezeki ia ingin sekali mempunyai modal usaha sendiri tanpa meminjam kepada orang lain dan bisa mempunyai ternak kecil-kecilan.
Sahabat, yuk temani perjuangan Mang Entis yang tengah berjuang bertahan hidup di dalam kondisi yang sangat sulit dan serba terbatas!
Klik "DONASI" dan berikan donasi terbaikmu.
Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan pemberian modal usaha untuk Mang Entis. Donasi yang terkumpul lebih akan disalurkan untuk membantu penerima manfaat lain serta keberlangsungan program sosial kemanusiaan di bawah naungan Yayasan Sahabat Beramal Jariyah.



