Pak Jajang (41), sebelumnya berprofesi sebagai buruh bangunan. Namun 3 tahun lalu ia mengalami kecelakaan kerja. Beliau tersengat listrik sehingga membuatnya harus kehilangan kedua tangan dan alami luka bakar di sebagian tubuhnya.
Saat itu Pak Jajang sedang mengangkat baja ringan, namun ujung bagian atas baja menempel ke kabel listrik bertegangan tinggi hingga membuat tubuhnya tersengat dan terpental kurang lebih 5 meter dari ketinggian 4 meter.
“Saya tersengat jam setengah 2 siang di hari Jumat. Malamnya setelah isya saya langsung pulang ke Garut,”
Kedua tangannya hangus terbakar, bagian betis kaki kanan, ketiak dan pundaknya pun mengalami luka bakar. Titik-titik sendi tubuhnya mengeluarkan cairan bahkan terdapat benjolan-benjolan berisi air.
Setelah kejadian tersebut, Pak Jajang langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh rekan-rekannya untuk mendapatkan pertolongan. Pak Jajang sempat menolak. Ia membayangkan jika kehilangan kedua tangannya diamputasi, bagaimana bisa ia menafkahi keluarganya.
Namun dokter mengatakan, jika dibiarkan kedua tangannya akan membusuk dan menjalar ke bagian tubuh lain.
“Awalnya saya belum bisa terima kalau harus kehilangan kedua tangan saya. Tapi karena istri membujuk dan meyakinkan saya kalau rezeki itu datangnya dari Allah, asalkan sholat tepat waktu, selalu berdoa dan yakin kalau setiap ikhtiar kita tidak akan sia-sia,”
Kini 3 tahun berselang, Pak Jajang mencoba bangkit berjualan sayur hingga perkakas keliling. Ia berusaha agar tetap bisa menghidupi 5 orang anak, istri dan kucing kesayangannya.
Hampir setiap hari Pak Jajang berjualan sayur dan perkakas sejak jam 6 pagi sampai jam 3 sore. Ia keliling berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lain sejauh 14 kilometer.
“Alhamdulillah hasil dari jualan mah ada 20 sampai 30 ribu sehari. Tapi masalahnya saya gak tiap hari bisa jualan karena sayuran dan perkakas yang saya jual cuma titipan orang,”
“Kesulitannya kalau jualan ya itu Pak. setiap ada yang mau beli gak bisa maksimal saya layani. Pembeli harus ambil, bungkus dan bawa sendiri. Uangnya juga harus mereka simpen di saku saya. Kalau kasih uang kembalian itu yang repot,”
Istri Pak Jajang, Bu Ani merasa tidak tega dan sangat khawatir terhadap keselamatan suaminya. Selain karena harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan berjalan kaki, ia juga khawatir suaminya terjatuh.
“Saya mah pengennya kalau ada modal, mau buka warung sayur sembako aja di rumah. Biar suami gak usah keliling jauh-jauh, kasian. Gak tega juga Pak, apalagi harus jalan jauh sambil bawa barang jualan yang berat, ke sayanya juga jadi gak tenang,”
Tentu tak mudah bagi Pak Jajang berjualan di tengah keterbatasan fisiknya. Namun mengingat masih ada 5 anak dan istrinya yang harus dinafkahi, Pak Jajang pantang menyerah untuk tetap bisa menafkahi keluarganya.
Sahabat, mari bersamai perjuangan Pak Jajang agar lebih mudah menafkahi keluarganya!
Klik "DONASI" dan berikan donasi terbaikmu.
Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk kebutuhan pokok dan pemberian modal usaha untuk Pak Jajang. Donasi yang terkumpul lebih akan disalurkan untuk membantu penerima manfaat lain serta keberlangsungan program sosial kemanusiaan di bawah naungan Yayasan Sahabat Beramal Jariyah.



