Di balik dua rumah sederhana yang sudah sesak, ada 30 anak berkebutuhan khusus yang bernaung. Setiap malam mereka tidur berhimpitan, berbagi ruang sempit yang disebut sebagai rumah.
“Anak-anak panti di sini kondisinya berbeda-beda. Ada yang mengalami Down Syndrome, autisme, bahkan kebutaan,” tutur salah satu pengasuh dengan suara lirih.

Sejak kecil, hidup mereka penuh penolakan. Ada yang dibuang, ada yang dititipkan lalu dilupakan. Tak pernah merasakan pelukan seorang ibu, atau panggilan hangat dari seorang ayah. Kini, satu-satunya tempat yang mereka miliki hanyalah Panti Mukti Insani.
“Anak-anak ini bukan aib, bukan juga beban. Mereka sama seperti anak lain, yang butuh perhatian dan kasih sayang kita,” tutur salah satu pengasuh dengan mata berkaca.
Salah satu yang tinggal di sana adalah Reza. Usianya 32 tahun, tapi perilakunya masih seperti anak berusia lima tahun. Dua tahun lalu, keluarganya tak lagi sanggup merawatnya, dan sejak itu Reza tinggal di panti, bergantung pada kasih pengasuh dan teman-temannya.

Mirisnya, kehidupan di panti jauh dari kata layak. Biaya operasional yang tidak menentu membuat mereka sering kali hanya bisa makan dengan nasi dan mie instan. Daging ayam baru bisa mereka cicipi saat Jumat Berkah, itu pun bila ada donatur yang berbaik hati.

Bukan hanya soal makanan, tempat mereka berteduh pun masih jauh dari kata layak. Dinding rumah sebagian besar masih berupa susunan bata tanpa plester, ada bagian yang hanya ditutupi papan kayu seadanya. Sebagian lantai pun belum berkeramik, masih berupa semen kasar yang dingin dan berdebu. Saat hujan turun, air merembes masuk, membuat anak-anak harus tidur dalam kondisi lembap dan dingin.

Meski terbatas, panti berusaha membekali mereka dengan keterampilan hidup. Ada yang tekun menjahit kain perca, ada yang sabar meraut bambu menjadi tusuk sate, ada yang mahir menyablon kaos, ada pula yang diajari berkebun. Semua ini demi satu harapan, agar kelak mereka bisa hidup lebih mandiri.
Sayangnya, tanpa bantuan kita, harapan itu terancam sirna. Bahkan keterbatasan dana bisa membuat anak-anak di panti berisiko kekurangan gizi, kesehatan menurun, dan tidak mendapat pendidikan maupun keterampilan yang layak.
Kak, bantu anak-anak Panti Mukti Insani agar tetap memiliki tempat berteduh, makanan bergizi, dan kesempatan untuk berkembang yuk? Setiap rupiah darimu bisa mengisi dapur mereka, memperbaiki rumah sewa, dan menjaga mimpi 30 anak yang istimewa ini.



