Setiap kali Abah Edin pulang dari berjualan, yang menyambutnya bukan kenyamanan, tapi rumah lapuk dengan atap berlubang dan ruangan gelap tanpa listrik. Di usia 70 tahun, Abah tidur tepat di bawah lubang atap itu, di atas lantai kayu dingin, tanpa kasur, tanpa selimut, tanpa siapa pun setelah istrinya meninggal. Jauh dari kata aman, tetapi itulah satu-satunya tempat yang masih ia punya.

Keadaan tubuhnya pun tak kalah memprihatinkan. Kakinya pernah patah hingga membuat langkahnya pincang. Pendengarannya hampir hilang. Napasnya sering sesak. Tapi demi bisa makan hari itu, Abah tetap memaksa dirinya berjalan jauh sambil menjinjing tas besar berisi baju titipan orang lain. Panas, hujan, atau lelah, semuanya ia terjang, karena kalau Abah berhenti bekerja, tak ada yang bisa ia makan hari itu.

Setiap malam, Abah menyimpan ketakutan besar rumahnya bisa roboh kapan saja. “Kalau rumah ini roboh… Abah tidur di mana?” pertanyaan yang ia ucapkan lirih itu menggambarkan betapa terdesaknya keadaan beliau. Dengan penghasilan yang hanya cukup untuk makan, mimpi memperbaiki rumah hanyalah angan yang ia simpan dalam diam. Dan selama tidak ada yang membantu, Abah harus terus memaksa tubuh rapuhnya menjalani rutinitas berat yang sebenarnya sudah tak sanggup ia lakukan.

Di sinilah bantuanmu berarti besar. Sedikit donasi darimu bisa memperbaiki rumah Abah agar kembali aman, membantu biaya pengobatan yang selama ini ia tunda, serta meringankan beban hidup yang ia pikul sendirian. Yuk ulurkan tangan untuk Abah Edin. Biar rumah yang aman dan masa tua yang layak bukan lagi sekedar harapan, tapi benar-benar terwujud untuk beliau.


