Tak banyak yang tahu bagaimana hari-hari Mak Aan berjalan. Di usia 80 tahun, ia hidup sendirian di sebuah kontrakan kecil sambil menahan sakit yang sudah bertahun-tahun menggerogoti wajahnya. Mak Aan bahkan tak tahu pasti penyakit apa yang ia alami. Yang ia tahu, mulut dan hidungnya perlahan hancur, dan kini penyakit itu mulai menyebar ke mata kanannya, membuat penglihatannya semakin terganggu dan rasa sakitnya kian berat dari hari ke hari.

Selama bertahun-tahun, Mak Aan belum pernah berobat sama sekali. Bukan karena ia tak mau sembuh, tapi karena ia tak mampu membayar pengobatan. Rasa sakit itu harus ia tanggung sendiri, tanpa perawatan, tanpa pendamping, tanpa kepastian kapan semua ini akan berhenti. Kondisi wajahnya membuat Mak Aan bukan hanya menahan sakit fisik, tapi juga luka batin. Setiap kali ia keluar rumah, banyak orang memilih menjauh. Ada yang menatap dengan takut, ada yang berbisik jijik, ada pula yang menghindar seolah Mak Aan bukan bagian dari mereka. Tak jarang ia menunduk, menyembunyikan wajah dan rasa malunya.

Meski tubuhnya renta dan kepalanya sering pusing saat berjalan jauh, Mak Aan tetap berusaha bertahan. Setiap hari ia berkeliling pasar menjual lap seribuan. Langkahnya pelan, tubuhnya lemah, namun itu satu-satunya cara agar ia bisa makan hari ini. Dari hasil jualannya, Mak Aan hanya mendapat sekitar Rp15.000–Rp20.000 per hari, itu pun jika ada yang mau membeli. Di tengah rasa sakit yang semakin parah, ia terus memaksakan diri karena tak punya pilihan lain.
Mak Aan tidak menginginkan hidup yang mewah. Ia hanya ingin sembuh, ingin bisa berinteraksi tanpa dijauhi, dan ingin menjalani sisa hidupnya tanpa terus menahan sakit. Ia juga berharap bisa memiliki usaha kecil di rumah, agar tak perlu lagi berjalan jauh sambil memaksakan tubuhnya yang semakin melemah.
Hari ini, Mak Aan masih berjuang sendirian. Tapi dengan bantuan kita, Mak Aan masih punya kesempatan untuk mendapatkan pengobatan dan perlahan membangun hidup yang lebih layak.


