Mak Tety tak pernah menyangka, di usia senjanya ia harus menghadapi kehilangan sebesar ini. Anaknya meninggal dunia setelah berjuang melawan gagal ginjal kronis. Selama masa pengobatan, Mak Tety mengerahkan semua yang ia punya. Bahkan ketika suaminya jatuh sakit stroke, ia memilih menunda pengobatan sang suami demi memprioritaskan kesembuhan anak tercinta.

Namun takdir berkata lain. Anaknya pergi lebih dulu, meninggalkan duka yang mendalam. Tak ada waktu berlama-lama untuk meratapi kehilangan, karena Mak Tety masih harus bertahan demi suaminya yang sakit stroke dan belum pernah menjalani pengobatan karena keterbatasan biaya.

Di usia 71 tahun, Mak Tety kembali menguatkan diri. Setiap hari ia berkeliling kampung menawarkan jasa cukur rambut dengan peralatan sederhana. Tidak ada harga pasti, dibayar seikhlasnya. Bahkan seringkali ia tidak dibayar sama sekali, terutama jika yang ia layani adalah orang-orang yang juga sedang kesusahan.
“Mak juga tau rasanya kesusahan,” ucapnya lirih. Karena itu, meski penghasilannya tak menentu dan tubuhnya semakin mudah lelah, Mak Tety tetap memilih bertahan. Baginya, selama masih bisa berjalan dan berusaha, itu sudah cukup untuk terus menjaga suaminya.

Melihat kondisi Mak Tety hari ini, bantuan dan dukungan tentu sangat berarti. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Mak Tety serta mendukung perawatan suaminya yang sakit. Besar kecilnya bantuan yang diberikan akan sangat membantu meringankan beban Mak Tety agar ia bisa terus bertahan dan menjalani hari-harinya dengan lebih tenang.


