Di balik lorong gang-gang kecil Abah Nana Sukarsah tinggal. Tumbuhnya bungkuk, langkahnya pelan, namun tidak dengan semangatnya yang tak pernah padam. Usianya saat ini 77 tahun, saat sebagian orang seusianya menikmati masa tua bersama keluarga, Abah Nana justru harus berjuang sendiri di jalanan sebagai pemulung.
Setiap hari, Abah berjalan 10 hingga 20 kilometer menggendong karung lusuhnya untuk mencari rezeki dari sisa kehidupan orang lain seperti botol plastik, kardus, dan barang bekas. Dikarenakan barangnya semua murah, Abah hanya dapat Rp5.000 - Rp30.000 dalam sehari. Dari hasil mulungnya itu, Abah harus menggunakan uangnya untuk menghidupi istri dan cucu yang telah yatim piatu.
Selama ini Abah hidup dalam kesulitan. Rumah yang mereka tempati sangat sederhana, berdiri di atas tanah dekat aliran sungai besar yang rawan banjir dan longsor. Untuk makan sehari-hari pun mereka sangat sulit. Mereka biasa makan nasi dengan garam, bahkan mereka bisa makan nasi dari sisa orang lain yang dikeringkan dan dimasak ulang. Belum pernah sekalipun mereka bisa makan lauk yang layak seperti ayam goreng yang sering dibeli orang-orang.
Abah Nana tidak hanya sudah renta, namun ia menderita hernia yang membesar hingga seberat 4 kg. Setiap Abah berjalan itu membuatnya merasakan nyeri. Adanya keterbatasan biaya, Abah tidak pernah memeriksanya. Meskipun sudah sakit-sakitan, Abah tetap memulung. Demi istri bisa makan dan cucu bisa sekolah.
Abah sesekali berharap ingin berhenti memulung dan berjualan kecil-kecilan di rumah yaitu berjualan bubur kacang di pinggir jalan. Namun modal tidak ada, gerobak belum punya, tapi semangatnya besar.
kita bantu Abah Nana menutup masa tua dengan lebih layak yuk?



