Mak Esih (60 tahun) hidup sendirian di rumah kecilnya. Suaminya udah meninggal lima tahun lalu. Dua anaknya, kembar, udah menikah dan ikut suaminya merantau. Gak ada yang bisa dititipin. Gak ada yang bisa dimintain tolong. Jadi Mak Esih ngelakuin semua sendiri.
Luka di kakinya udah makin parah sejak dipatuk ular waktu nyari rumput. Gak bisa tidur lama. Gak bisa santai. Tapi tetap dipaksain berdiri. Karena kalau hari itu gak kerja, hari itu juga gak makan.
Setiap hari, kalau kakinya gak terlalu sakit, Mak bakal jalan pelan-pelan ke ladang rumput. Dia motongin rumput buat dijual ke orang-orang yang punya ternak. Upahnya kecil. Kadang Rp15.000. Kadang gak dibayar, tapi ditukar 1 liter beras, yang penting bisa makan hari itu.
Makanan Mak sehari-hari pun gak macam-macam. Nasi sama garam. Atau kadang cuma air hangat kalau gak ada apa-apa. Tapi Mak gak pernah ngeluh. Katanya “Yang penting bisa jalan. Bisa kerja.”
Tapi sekarang, lukanya makin membusuk. Daging di kaki Mak udah ngelupas dan nyaris keliatan tulangnya. Kalau terus dibiarkan, dokter bilang bisa kena amputasi.
Mak gak punya siapa-siapa lagi. Gak punya BPJS. Gak punya tabungan. Gak punya kendaraan buat kontrol.
Tapi Mak masih tetap berangkat ke ladang. Masih tetap motong rumput. Masih tetap pulang sore-sore bawa karung setengah isi. Masih tetap masak nasi buat dimakan sendirian di rumah.
Mak butuh bantuan untuk biaya berobat, untuk menyelamatkan kakinya, untuk bisa tetap jalan dan kerja tanpa harus menahan nyeri setiap hari.
Kita bisa bantu Mak hari ini, sebelum terlambat


