Sakit banget ya jadi Bu Nanim…?
Selama 15 tahun harus lihat anaknya kesakitan hampir tiap hari.
Kata ibu, Syahrul (15 tahun) sering banget kejang. Kalau lagi kambuh, tubuhnya kaku, matanya terbelalak, napasnya tersengal-sengal. Bu Nanim cuma bisa panik sambil peluk anaknya yang menggigil nahan sakit.
“Kalau kejang, saya cuma bisa elus-elus kepalanya sambil meluk, nangis, dan berdoa. Sambil minta maaf sama Arul. ‘Maafin Ibu ya Nak, belum bisa bawa berobat lagi…’” Kata Ibu.
Syahrul menderita Lumpuh Otak (Cerebral Palsy) sejak kecil. Tubuhnya kurus, tangannya bengkok, Syahrul nggak bisa jalan, nggak bisa bicara, dan hampir nggak bisa gerak. Satu-satunya harapan cuma terapi rutin. Tapi biayanya mahal banget..
Sedangkan Bu Nanim cuma tukang permak sederhana. Tinggal di kontrakan kecil. Mesin jahit pun masih nyewa bulanan. Kadang buat makan aja susah… gimana bisa bayar terapi?
“Tiap malem saya suka khawatir, Syahrul masih kuat nggak ya nahan sakitnya? besok bakal kejang nggak ya? Saya takut, soalnya dokter bilang, kalau nggak segera diobati penyakitnya bisa makin parah dan tubuhnya semakin kaku..”
Sahabat Amal, kita mungkin tak akan pernah bisa merasakan sekuat apa hati seorang ibu seperti Bu Nanim.
Setiap hari, ia berjuang seorang diri demi Syahrul, anaknya yang mengidap Lumpuh Otak. Meski lelah dan terbatas dalam ekonomi, ia tak pernah menyerah. Tapi hari ini, kita bisa menjadi bagian dari perjuangannya. Kita bisa membantu agar Syahrul mendapatkan terapi yang ia butuhkan sebelum terlambat.
Yuk, ringankan langkah Bu Nanim dan berikan harapan untuk Syahrul!



