Di balik keramaian Pasar Beringharjo yang seolah tak pernah tidur, tersimpan kisah getir yang jarang disadari orang. Ada ratusan perempuan renta, sebagian besar sudah berusia lanjut, yang masih harus mengandalkan tenaga tuanya untuk mengangkat barang demi barang.

Mereka adalah para simbah yang seharusnya bisa duduk tenang menikmati hari tua. Namun kenyataannya, setiap hari mereka justru harus memanggul beban berat—tak jarang seberat 25 kilogram—agar bisa membawa pulang sedikit penghasilan.
Banyak dari mereka sudah menapaki jalan ini sejak muda, ada yang bahkan lebih dari lima dekade. Setiap langkah yang pelan dan punggung yang kian membungkuk menyimpan cerita tentang ketabahan, sekaligus perihnya hidup yang memaksa mereka terus bertahan.

Sebagian besar dari para simbah ini datang dari Kulonprogo. Setiap hari mereka menempuh perjalanan jauh ke Pasar Beringharjo, menghabiskan Rp20.000 hanya untuk ongkos bus pulang-pergi. Ironisnya, hasil yang mereka bawa pulang sering kali tak seberapa—kadang hanya Rp20.000 hingga Rp40.000. Bahkan ada hari-hari di mana mereka kembali dengan tangan kosong.
Bagi yang benar-benar tak sanggup membayar ongkos pulang, pasar menjadi tempat mereka beristirahat. Lantai dingin tanpa alas, udara malam yang menusuk, bahkan tetesan hujan yang masuk dari sela bangunan—semua itu mereka terima dengan pasrah.
Dan sebelum fajar merekah, mereka sudah harus terjaga. Duduk menanti truk sayur yang datang pukul dua pagi, berharap bisa mendapat tambahan pekerjaan meski hanya beberapa ribu rupiah. Sebuah perjuangan yang bagi banyak orang mungkin tak terbayangkan.




