Sejak masih dalam kandungan, dokter sudah menyampaikan bahwa ada sesuatu yang tidak biasa pada janin Bu Solihah. Saat usia kehamilan memasuki 40 minggu, ia memeriksakan diri dan mendapat kabar yang mengguncang hatinya. Dokter menduga ada cairan di kepala bayi dan struktur wajah yang tidak sempurna. Ketika dilakukan USG empat dimensi, terlihat jelas bahwa bayi yang ia kandung mengalami hydrocephalus, kelainan pada wajah, serta infeksi yang membuat nyawanya saat itu sangat kritis.

Keesokan harinya Bu Solihah dirujuk ke IGD RS Hermina untuk tindakan segera. Dalam kondisi penuh ketakutan, ia hanya bisa menggenggam perutnya sambil berbisik, “Nak, bertahan ya, jangan tinggalin Ibu.” Fahrul akhirnya lahir dan langsung masuk NICU, namun tidak lama. Organ-organ dalam tubuhnya sehat, hanya kepalanya lembek karena cairan dan wajahnya terbelah pada bagian hidung hingga bibir atas. Untuk biaya persalinan saja, Bu Solihah menghabiskan sekitar tujuh juta rupiah, jumlah yang sangat besar bagi dirinya yang saat itu hanya bekerja sebagai ART.
Kini Fahrul berusia lima tahun dan tumbuh menjadi anak yang aktif, cerdas, dan penuh semangat. Ia sering membantu ibunya membuat kue dan rajin belajar di rumah meski belum bersekolah. Dalam banyak hal, ia menunjukkan kemandirian yang membuat ibunya bangga, termasuk ketika ia dengan polos berkata, “Aku suka apa saja yang Ibu masak.” Namun di balik keceriaannya, ada luka yang tidak terlihat. Anak-anak seusianya sering mengejeknya, bahkan pernah berkata, “Fahrul jelek.” Kata-kata itu membuatnya takut bertemu orang dan sempat membuatnya tidak mau sekolah.

Kondisi fisiknya juga masih jauh dari kata pulih. Mata kanannya sulit melihat. Jari kelingking dan jari manis tangan kirinya tetap menyatu meski sudah dua kali operasi pemisahan. Di tenggorokannya masih ada lubang karena ia tidak memiliki pangkal lidah dan harus menjalani operasi lanjutan di bedah plastik. Sejak lahir, Fahrul sudah menjalani empat kali operasi, mulai dari pemasangan alat pipisan, penutupan bibir, hingga pemisahan jari. Namun perjalanannya masih panjang dan biaya pengobatannya tidak sedikit.
Bu Solihah berjuang seorang diri. Suaminya pergi sejak kelahiran Fahrul dan tidak pernah memberi kabar lagi. Ia hanya bisa mengandalkan usaha kue rumahan yang bergantung pada pesanan dan modal yang sering kali tidak ada. Ia bahkan sering menahan malu karena tidak berani meminta pembayaran di awal. Untuk kebutuhan harian dan kontrakan sebesar tujuh ratus ribu rupiah per bulan, ia dibantu anak sulungnya yang duduk di bangku SMP jika ada uang lebih.

Tinggal bertiga di rumah kontrakan, Bu Solihah memikul seluruh tanggung jawab keluarga. Ia ingin sekali memastikan Fahrul mendapatkan perawatan terbaik. Ia juga bercita-cita memiliki warung kecil di rumah agar bisa tetap menjaga anak-anaknya sambil mencari nafkah. Namun dengan penghasilan yang tidak menentu dan keuntungan yang kecil, harapan itu terasa semakin jauh.
Perawatan Fahrul tidak bisa lagi ditunda. Banyak tindakan medis yang harus dilakukan, seperti operasi lanjutan di RS Cipto Mangunkusumo, kontrol rutin, hingga obat-obatan yang tidak semuanya ditanggung BPJS. Bu Solihah hanya ingin satu hal, yaitu melihat anaknya tumbuh sehat, percaya diri, dan bisa hidup seperti anak-anak lain.

Mari bersama membantu perjuangan kecil Fahrul untuk sembuh. Dukunganmu, sekecil apa pun, bisa menjadi jalan bagi Fahrul agar mendapatkan perawatan medis yang ia butuhkan dan memberi harapan baru bagi keluarga kecil ini.


