Baru saja menata kehidupan baru bersama istrinya, Pak Agus (37) harus menerima kenyataan pahit. Luka kecil di lidah yang tak kunjung sembuh, ternyata kanker lidah ganas yang mengubah segala kehidupannya. Dari seorang suami yang memiliki penuh harapan, kini menjadi seorang pejuang yang harus bertarung melawan sakit dan biaya pengobatan yang tak ada habisnya.
Sejak itu, perjalanan rumah tangga mereka yang baru saja dimulai diuji begitu berat. Pak Agus harus meninggalkan istrinya di Makassar dan pulang ke Bandung demi menjalani pengobatan. Nur tetap bertahan di sana, melanjutkan usaha kecil-kecilan menjual minuman dan jajanan anak-anak di sekolah dasar untuk membantu biaya pengobatan suaminya. Sementara Pak Agus, yang dulu biasa mencari nafka, kini hanya bisa membantu ibunya berjualan bakso seadanya di Bandung
“Modal jualan banyak terpakai buat berobat, jadi sekarang jualan alakadarnya,” tutur Pak Agus lirih. Bahkan, demi bisa terus berobat, ia rela menjual HP dan mas kawin pernikahannya.
Delapan bulan sudah Pak Agus berjuang melawan sakit. Rasa nyeri di lidahnya begitu menyiksa sempat membengkak hingga menempel ke langit-langit mulut, sering mengeluarkan darah, dan membuatnya kehilangan kemampuan bicara. Berat badannya pun berkurang sampai 20 kilogram. Sesekali, agar tetap bisa berkomunikasi, ia terpaksa menulis di secarik kertas.
Harapan sempat muncul setelah ia menjalani kemoterapi pertama. Perlahan, ia kembali bisa mengucapkan kata-kata meski masih harus menahan sakit. Namun, perjalanan sembuhnya masih sangat panjang.
Dokter menyarankan beberapa siklus kemoterapi lagi. Sayangnya, tidak semua obat dan alat penunjang ditanggung BPJS. Untuk kebutuhan tambahan seperti susu formula khusus yang dianjurkan dokter, Pak Agus hanya mampu menggantinya dengan susu biasa dari warung.
Kini, Pak Agus benar-benar di titik lemah, bukan hanya karena penyakitnya, tapi juga karena tekanan biaya yang kian menumpuk. Ia bingung harus menjual apa lagi dan tak tega melihat istrinya di Makassar bekerja keras sendirian demi membiayai pengobatannya.
Perjuangan Pak Agus bukan hanya melawan kanker, tapi juga mempertahankan harapan hidup bersama istri dan ibunya yang menua.
Penerima Manfaat beralamat di Bojongloa Kidul, Bandung
Dana yang terkumpul akan digunakan untuk biaya pengobatan Pak Agus, termasuk kemoterapi, obat-obatan, serta kebutuhan nutrisi penunjang yang tidak ditanggung BPJS. Selain itu, donasi juga akan membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari Pak Agus, istrinya di Makassar, dan sang ibu yang kini hanya mengandalkan jualan kecil-kecilan. Jika terdapat kelebihan dana, akan disalurkan kepada penerima manfaat lainnya di bawah naungan program Yayasan Sahabat Beramal Jariyah.



