Berita tentang kehamilannya seharusnya menjadi awal dari babak baru yang penuh harapan. Namun belum sempat ia menikmati kebahagiaan itu, Sri Yanti justru harus menghadapi kenyataan pahit. Luka kecil di lidah yang selama ini ia anggap hanya sariawan ternyata berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan. Dalam hitungan bulan, rasa tidak nyaman itu membesar dan mengganggu setiap kali ia mencoba makan atau berbicara.
Ia masih ingat bagaimana dokter menatapnya perlahan sebelum memberi tahu hasil pemeriksaan. Di momen itu, dunia seakan berhenti. “Awalnya saya kira cuma sariawan,” ucapnya pelan, seolah belum percaya, “ternyata setelah dicek dokter bilang itu kangker.”

Dokter sebenarnya sudah memberi peringatan sejak awal. Kandungan Sri berisiko tinggi dan langkah paling aman adalah menghentikan kehamilan. Namun saat itu usia janin sudah lebih dari tiga bulan. Sri dan suaminya saling menatap, lalu memutuskan satu hal yang sama. Mereka ingin mempertahankan anak itu, apa pun yang terjadi. Mereka memilih berharap, meski hati mereka penuh ketakutan.
Hari demi hari, Sri mencoba kuat. Ia menahan nyeri di lidahnya sambil mengelus perutnya, seolah memberi tahu bayinya bahwa semuanya akan baik saja. Tapi seringkali hidup tidak berjalan sesuai doa. Kanker yang bersarang di tubuhnya begitu agresif hingga sedikit demi sedikit memengaruhi perkembangan janin. Setiap kontrol, dokter menyampaikan kabar yang membuat hati mereka makin runtuh.
Hingga akhirnya, di usia delapan bulan, saat mereka seharusnya menyiapkan nama dan pakaian kecil untuk sang buah hati, Sri justru harus menerima kenyataan yang paling menyakitkan. Bayinya tak bisa bertahan. Tekad sekuat apa pun tidak mampu melawan takdir yang begitu kejam.

Bukan hanya penyakitnya yang semakin agresif, keadaan ekonomi keluarga pun membuat perjuangan Sri terasa makin berat. Penghasilan suaminya dari berjualan gorengan hanya cukup untuk kebutuhan harian. Untuk berobat, mereka sepenuhnya bergantung pada BPJS. Namun karena rujukan rumah sakit berada di luar kota, mereka harus memikirkan ongkos, makan, dan tempat tinggal sementara. Tabungan kecil yang mereka punya cepat sekali habis, dan sisanya mereka bertahan dengan cara menabung seketat mungkin atau meminjam dari saudara.
Di tengah semua kesulitan itu, suaminya tetap berusaha berdiri tegak meski matanya sering kali tampak lelah dan khawatir. Ia hanya ingin melihat istrinya kembali sehat. “Buat bekel kadang kurang, jadi harus minjem saudara,” ujarnya perlahan, “ngga ada harapan saya kecuali pengen istri sembuh. Mohon doa nya.”
Di balik kata katanya yang sederhana, tersimpan rasa takut, pasrah, dan cinta yang begitu dalam. Mereka berdua berusaha sekuat tenaga, walau keadaan tak pernah benar benar memihak.

Sahabat gemar berbagi, perjuangan Sri dan suaminya sudah terlalu panjang dan penuh air mata. Dari kehilangan sang buah hati hingga terus berjuang melawan kanker yang begitu agresif, mereka hanya menggantungkan satu harapan kecil yang terus mereka jaga setiap hari, semoga Sri bisa sembuh.
Mari, dengan hati yang tulus, kita sisihkan sedikit dari apa yang kita punya agar mereka bisa menempuh pengobatan yang lebih layak. Uluran tanganmu bisa menjadi napas baru bagi Sri dan keluarga yang sedang berpegangan pada harapan terakhir mereka.


